Thu 6 Nov 2008
Kejadian ini terjadi saat aku pulang setelah bertemu Puspa di Plaza Semanggi. Karena sudah cukup larut dan takut naik angkutan malam hari, maka kuputuskan untuk naik taksi saja. Dan karena hanya dua taksi yang kupercaya Bluebird dan Express, maka hanya dua taksi itu yang kami cari di depan Plangi malam itu.
Begitu melihat Bluebird, aku langsung naik. Aku mulai sedikit sebal saat kubilang tujuanku dan si supir tampak bingung dan berkata, ” Wah, nanti ibu saja yang nunjukin jalannya yah?” What!
” Bapak tau Blok M kan?” nada suaraku mulai tinggi
” Tau Bu”
” Ya udah sekarang ke arah Blok M dulu”
Yang membuatku marah adalah si supir tidak tahu dan bingung mau puter balik di mana.
” Harusnya puter balik di jembatan tadi pak”
” Oh bisa ya Bu?”
Hahhh!!!!! Aku jadi sangat sebel saat supir itu masih saja kebingungan dan kami semakin jauh dari tempat seharusnya puter balik tadi.
” Emang ini mau ke arah mana Pak? bapak mau puter balik di mana?” Aku mulai gusar.
” Kan bisa lewat Kemang ya Bu?”
” Hah, Kemang? Jauh amat siy Pak?” Aku mulai marah pada supir taksi itu.
” Puter balik depan itu pak”, kataku sedikit ketus saat melihat ada tanda puter balik di depan
Dan sepanjang perjalanan itu si supir berulang kali bilang, ” Lurus aja bu?”
Hingga akhirnya aku harus selalu bilang arah setiap ada perempatan atau belokan. Kurang ajar juga nie supir. Dia beneran ga tau jalan, atau pura-pura ga tau siy? Awas aja macem-macem, toh aku tau jalan.
Hingga akhirnya, karena penasaran, aku bertanya padanya, ” Bapak baru yah, jadi supir taksi?”
” Iya Bu, maaf ya kalau saya tanya-tanya terus”
” Baru berapa lama?”
” 2 bulan Bu”
Entah mengapa saat itu juga kemarahanku mereda, berganti jadi iba. Kasihan juga ya, supir taksi baru yang belum banyak tahu jalan, mereka kan harus banyak menghapal jalan.
” Memang dulu kerja di mana?”
” Wiraswasta Bu”
” Kenapa sekarang jadi supir taksi?”
” Kehabisan modal Bu”
” Emang usaha apa?”
” Jualan beras ”
Selanjutnya adalah cerita supir taksi itu tentang usahanya berjualan beras hingga kehabisan modal dan memutuskan jadi supir taksi, pool-nya di Bekasi, sehingga dia belum begitu hapal dengan jalan-jalan di pusat kota karena dia lebih sering lewat daerah pinggiran.
Tiba-tiba saja aku merasa bersalah telah berburuk sangka pada supir taksi itu dan telah berkata ketus padanya. Aku pun jadi bersyukur dengan apa yang telah kunikmati sekarang. Bahkan aku menunjukkan jalan arah kos ku kalau mau ke Bekasi. Sesampainya di kos dan membayar taksi dengan kelebihan aku tidak memikirkan bahwa tadi sempat akan memberinya uang sangat pas sesuai argo karena aku sebal dia tidak tahu jalan dan mengucapkan terima kasih padanya, dan mengulangi arah jalan yang harus di laluinya.
“Maaf ya pak, telah berkata ketus… terima kasih telah membuatku belajar untuk lebih mengenal siapa pun itu dan tidak mudah berburuk sangka”
November 7th, 2008 at 6:09 am
Saya juga suka ngenes gitu denger ceritanya sopir taksi. Banyak dari mereka yang bekerja jadi sopir karena gagal di pekerjaan terdahulu.
Oh ya, nyetir di Jakarta itu melelahkan jiwa+fisik, jadi kita mesti rada maklum kalo sopirnya tampak linglung.
November 7th, 2008 at 6:59 am
Wah kasian yah supir itu…
Untung aja ngajakin si supir ngobrol…
Kalau saya sih kadang2 ngajakin ngobrol, seringannya bisu aja…
November 7th, 2008 at 7:06 am
Saya juga pernah ngalami…. Sopir Bluebird baru 3 bulan (berlogat sunda).
Dari Blok S mau ke Senen, muter-muter gak karuan… Mana saya juga gak tau jalan2 di Jakarta. Akhirnya saya telp temen sbagai petunjuk jalan.
November 7th, 2008 at 7:48 am
Beruntungnya dirimu.
November 7th, 2008 at 7:53 am
waduh coba klo saya yang kaya’ gitu
bakal tersesat bareng2..wong saya jg gak tau jalan…
November 7th, 2008 at 5:39 pm
hemmm,,anak yang baik
November 7th, 2008 at 8:51 pm
aq sering ngajak ngobrol sisupir k-lo naik taksi,bahkan mereka malah curhat ttg sulitnya hidup,kejar setoran, keluarga “sighs”
aq hanya bisa bersyukur N berdoa bwt mereka
November 7th, 2008 at 9:36 pm
ternyata jeng septy yang manis ini bisa juga ketus
November 7th, 2008 at 10:02 pm
Syukur dah dapat hikmah dari kejadian itu!
November 7th, 2008 at 10:55 pm
Pengalaman saya lebih seru. Supirnya baru satu hari nyupir. Sebelumnya dia kerja sebagai waitress disebuah restoran. Dia sudah kerja 3 tahun dengan sistem kontrak dan tidak dapat diperpanjang. Tapi aku ga tahu pasti, apakah itu cerita benar ato ga.
Selama kerja dia hanya tahu jalan dari kost-nya ke restoran tempat dia kerja .. jadinya waktu aku dari Sarinah Thamrin ke Gajah Mada, dia aja bingung.
November 8th, 2008 at 12:25 am
Ada temen blogger yang komentar, dia sebel karena sopir tak tahu jalan….tapi sebetulnya banyak yang jadi sopir taksi karena harus bekerja. Saat melalui jalan macet, sopir taksi komentar, bagaimana kalau putar arah bu…didepan crowded….
Dan ternyata dia alumni PTN yang sempat kerja, tapi perusahaan bangkrut.
November 8th, 2008 at 2:30 am
Bener bgt mbak. Kita ga boleh su’zon ama orang… Tapi tetap harus hati2 menilai orang lain…
November 8th, 2008 at 3:24 am
banyak lho supir taksi yang terpaksa menjadi supir taksi, saya juga pernah bertemu, supir taksi yang seorang sarjana, lulusan universitas ternama di jakarta, dia bilang, susah cari kerja, makanya jadi supir taksi, yang sudah pasti diterima
November 8th, 2008 at 4:16 am
Sebuah kisah berujung hikmah
Dan kau cerdas karena telah mendapatkannya
November 8th, 2008 at 7:33 am
yap.
terkadang ketika situasi yang lebih mengenaskan akan menjadi titik balik kita dalam bersikap.
Kita terkadang terlalu lemah degan kesusahan, namun begitu dengki dengan keunggulan.
Seharusnya sikap kurang profesional itu tidak dibenarkan, namun toleransi boleh lah.
Bluebird harus melepas burung yang sudah pandai terbang, jangan melepas burung yang ternyata masih berbulu ayam.
Karena bulu burung dan ayam sungguh berbeda..!
November 8th, 2008 at 12:14 pm
terharu saya… wah jadi kangen jakarta!!
November 8th, 2008 at 1:34 pm
Ooo… ternyata sopir baru ya?
Maklum kalau dia belum hafal jalan.
November 8th, 2008 at 2:05 pm
Waduh kasihan banget tuh
Saya juga suka ngajakin ngobrol sopir taksi
banyak juga pengalaman nya yang bagus bagus dan mengesankan, suka dan dukanya menjadi sopir taxi
November 8th, 2008 at 2:36 pm
untung nggak sampe digigit sopirnya hehehhe
November 8th, 2008 at 6:41 pm
Hmmm… termasuk berani juga tuh bapak.. jadi sopir taxi belum hafal rute, bagaimana kalau penumpangnya seperti saya yang orang Kalimantan ini.. wow.. bisa sehari semalam baru sampai tujuan
November 8th, 2008 at 8:35 pm
pelajaran berharga….
November 8th, 2008 at 9:32 pm
kalo begitu ceritanya, baiknya kita kenalan dulu deh hehehe … salam kenal ya
November 8th, 2008 at 9:51 pm
manusia….lebih sering berprasangka buruk duluan. lumayan, bisa jadi pelajaran.
November 8th, 2008 at 10:31 pm
kadang pada posisi kita yang buru-buru, kita menjadi buru-buru juga menilai sesuatu..
November 8th, 2008 at 10:46 pm
tak kenal, maka tak jak kenalan
November 8th, 2008 at 10:53 pm
tak kenal maka jalan jalan
November 8th, 2008 at 11:02 pm
wahhhh aku aja tinggal di makassar dah 4 tahun masih bis tersesat
November 9th, 2008 at 12:49 am
mudah2an saja kata2 si sopir taksi itu bener adanya, mbak, kan banyak tuga tuh sekarang banyak orang pasang ta,pang memelas, tapi sesungguhnya ia punya pamrih yang lain. bukannya curiga, tapi waspada tetep penting, mbak septy, hiks.
November 9th, 2008 at 7:03 am
saya kmaren pas di jakarta malah ketemu supir taxi yang belagak gak tau jalan, dan itu bener-bener bikin kesel….
kalo kejadian kayak kau alami wajar, lah ngakunya bertahun-tahun jadi supir, masa gak hapal jakarta ? arrgghhh
November 9th, 2008 at 11:23 am
kalau seseorang sudah minta maaf memang biasanya luruh hati ini
November 9th, 2008 at 12:18 pm
Memakai GPS yang lengkap dengan software petanya sangat membantu walau tidak 100% menjamin. Hanya saja si sopir harus familiar dulu memang dengan benda yang namanya GPS itu. Huehehe…..
November 9th, 2008 at 8:55 pm
Hahaha…. saya juga pernah seperti itu, memang kadang dengan kesabaran kita saja semua dapat terjawab dan sebenarnya juga bukan karena kemauan mereka untuk menjadi supir taksi….
November 9th, 2008 at 9:06 pm
duh besok saya beli mobil aja deh,,,ga usah naek taksi..ntar malah kasian ama supirnya…..mending jadi supir sendiri
November 10th, 2008 at 3:39 pm
sebenernya, untuk supir blue bird, tidak tahu jalan adalah menunjukan ketidakprofesionalan. masalahnya jalan jakarta ini emang nge-bingungin kok… hihihihi
November 10th, 2008 at 4:10 pm
curiga sebatas waspada gpp, nyatanya kamu dpt hikmah ya…
November 10th, 2008 at 9:51 pm
eh eh eh… sabar neng…
November 12th, 2008 at 11:02 am
ach untung dulu dr cengkareng ke sudirman tengah malem supir taksinya uda apal, klo gak apal?nyasar deh..
November 12th, 2008 at 1:09 pm
mmmm..baru toKh..
November 14th, 2008 at 5:32 pm
aq juga pernah kejadian seperti ini, cuma karena ga tau jalan2 dijakarta jga akhirna memutuskan turun ajah…..
January 28th, 2009 at 3:04 pm
Aih kadang-kadang pura2 aja tuh sopir. Makanya klo gw mo naik taxi blue bird, sebelum naik naya dulu, tahu nggak tempatnya. Klo bilang tahu, jangan coba2 ditengah jalan bilang gak tahu.