Kejadian ini terjadi saat aku pulang setelah bertemu Puspa di Plaza Semanggi. Karena sudah cukup larut dan takut naik angkutan malam hari, maka kuputuskan untuk naik taksi saja. Dan karena hanya dua taksi yang kupercaya Bluebird dan Express, maka hanya dua taksi itu yang kami cari di depan Plangi malam itu.

Begitu melihat Bluebird, aku langsung naik. Aku mulai sedikit sebal saat kubilang tujuanku dan si supir tampak bingung dan berkata, ” Wah, nanti ibu saja yang nunjukin jalannya yah?” What!

” Bapak tau Blok M kan?” nada suaraku mulai tinggi

” Tau Bu”

” Ya udah sekarang ke arah Blok M dulu”

Yang membuatku marah adalah si supir tidak tahu dan bingung mau puter balik di mana.

” Harusnya puter balik di jembatan tadi pak”

” Oh bisa ya Bu?”

Hahhh!!!!! Aku jadi sangat sebel saat supir itu masih saja kebingungan dan kami semakin jauh dari tempat seharusnya puter balik tadi.

” Emang ini mau ke arah mana Pak? bapak mau puter balik di mana?” Aku mulai gusar.

” Kan bisa lewat Kemang ya Bu?”

” Hah, Kemang? Jauh amat siy Pak?” Aku mulai marah pada supir taksi itu.

” Puter balik depan itu pak”, kataku sedikit ketus saat melihat ada tanda puter balik di depan

Dan sepanjang perjalanan itu si supir berulang kali bilang, ” Lurus aja bu?”

Hingga akhirnya aku harus selalu bilang arah setiap ada perempatan atau belokan. Kurang ajar juga nie supir. Dia beneran ga tau jalan, atau pura-pura ga tau siy? Awas aja macem-macem, toh aku tau jalan.

Hingga akhirnya, karena penasaran, aku bertanya padanya, ” Bapak baru yah, jadi supir taksi?”

” Iya Bu, maaf ya kalau saya tanya-tanya terus”

” Baru berapa lama?”

” 2 bulan Bu”

Entah mengapa saat itu juga kemarahanku mereda, berganti jadi iba. Kasihan juga ya, supir taksi baru yang belum banyak tahu jalan, mereka kan harus banyak menghapal jalan.

” Memang dulu kerja di mana?”

” Wiraswasta Bu”

” Kenapa sekarang jadi supir taksi?”

” Kehabisan modal Bu”

” Emang usaha apa?”

” Jualan beras ”

Selanjutnya adalah cerita supir taksi itu tentang usahanya berjualan beras hingga kehabisan modal dan memutuskan jadi supir taksi, pool-nya di Bekasi, sehingga dia belum begitu hapal dengan jalan-jalan di pusat kota karena dia lebih sering lewat daerah pinggiran.

Tiba-tiba saja aku merasa bersalah telah berburuk sangka pada supir taksi itu dan telah berkata ketus padanya. Aku pun jadi bersyukur dengan apa yang telah kunikmati sekarang. Bahkan aku menunjukkan jalan arah kos ku kalau mau ke Bekasi. Sesampainya di kos dan membayar taksi dengan kelebihan aku tidak memikirkan bahwa tadi sempat akan memberinya uang sangat pas sesuai argo karena aku sebal dia tidak tahu jalan dan mengucapkan terima kasih padanya, dan mengulangi arah jalan yang harus di laluinya.

“Maaf ya pak, telah berkata ketus… terima kasih telah membuatku belajar untuk lebih mengenal siapa pun itu dan tidak mudah berburuk sangka”