Sabtu malam lalu, aku diajak oleh m’Susan teman kos pondok kuning untuk menjenguk papa dari Lince, teman kantor kami, di RS Dharmais. Sebelumnya m’Susan sudah menceritakan padaku kondisi papa Lince yang hanya dalam waktu kurang dari 2 bulan memburuk dengan cepat karena kanker hati.
Kami bertiga, m’Susan Fitri dan aku, menuju RS Dharmais bersama Pak Albert, Marketing GF, teman dekat m’Susan. Setiba di sana kami disambut wajah kuyu Lince yang semalaman tidak tidur menunggui papanya. Kami menuju ruang 501 dan menjumpai mama, kakak dan keluarga Lince. M’Susan, Fitri dan Pak Albert melakukan doa bersama keluarga Lince secara agama mereka, Katholik.
Papa Lince sudah sudah tidak bisa menerima respon apa pun dari kami. Beliau mulai koma sejak pukul 02 dini hari. Dan apa yang kulihat malam itu membuatku hatiku menangis. Bagaimana Lince menceritakan awal mula kondisi papanya yang dalam waktu singkat memburuk dan keikhlasannya menerima apa pun yang terjadi. Hanya sang kakak yang belum bisa karena dia baru datang sore itu, belum sempat berbincang atau berkata apa pun pada papanya.
Dan kejadian selanjutnya, membuatku benar-benar menangis, saat kakak Lince memeluk papanya, memohonnya agar sejenak saja bangun. Sedangkan mama Lince berulang kali memohon pada anaknya agar mengikhlaskan papanya karena dia sudah tidak tega melihat suami yang dicintainya kesakitan seperti itu (saat itu kondisi beliau sudah sakaratul maut, istilah kaluargaku)
“ Disaat ku tak berdaya, kuasaMu yang sempurna
Ketika ku percaya, mujizat itu nyata
Bukan karena kekuatan, namun RohMu ya Tuhan
Ketika ku berdoa, mujizat itu nyata “
Bait lagu rohani itu berulang kali disenandungkan kakak Lince sambil memeluk papanya. Aku tahu lagu itu, karena m’Susan sering menyanyikan lagu itu di kosan.
Aku tercekat, berulang kali ber istighfar dan berdoa dalam hati. Antara mengikhlaskan dan percaya pada kehendak-Nya. Aku percaya pada-Mu Ya Allah dan kumohon dengan sangat, berikan yang terbaik.
Setelah beberapa saat semua bisa diredakan, mereka sekeluarga mulai saling menenangkan diri dan berdoa bersama. Kami di RS hingga pukul 22 lewat. Karena sudah larut kami pun pamit. Kami sampai di kosan sekitar pukul 00.00 karena menyempatkan diri makan di tempat makan dekat kos-kosan. Saat itu kami mendapat sms dari Lince yang mengucapkan terima kasih karena kami telah menyempatkan menengok dan mengabarkan bahwa papanya telah meninggal pada pukul 23.00. Ucapan turut berduka pun kami kirimkan tuk Lince dan keluarga, semoga diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi ini semua.
Antara mengikhlaskan dan percaya pada Kehendak-Nya. Batas itu sama-sama milik-Nya. Saat kita percaya pada apa pun kuasa-Nya, saat itulah kita harus ikhlas menerima apa pun kehendak-Nya. Aku selalu percaya itu, percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik. Bahwa di saat aku percaya pada Kehendak-Nya, kemudian berusaha sekuat tenaga, aku menyerahkan hasil akhirnya pada-Nya. Dan saat akui sungguh-sungguh percaya, Dia selalu memberikan padaku yang terbaik. Meski kadang aku kecewa pada awalnya, tetapi aku selalu bersyukur pada akhirnya.
Untuk Lince, ikut berduka cita, ya.. Memang berat kehilangan orang terdekat. Seorang teman saya juga meninggal karena sakit, sayangnya saya tak sempat bertemu saat hari2 terakhir hidupnya
aku percaya Allah selalu berikan yang terbaik, meskipun kadang kita sulit menerimanya…
hiks..memang Allah punya rencana terbaik bagi setiap umatNya..
itulah mengapa manusia selalu berusaha… Allah lah yang menentukan
aku j9 pernah men9alami kejadian ituh,pd sebuah RS,ad y9 sedan9 sakaratul maut..
* terdiam*
istiqfar…
untuk papa lince,semo9a TUHAN memberikan y9 terbaik..tabah&sabar yaa..
ikHlas meman9 beRaT tp jika kita berusaHa maka kemudahan dariNYA.
open it.,,,
http://farhanbercanda.blogspot.com
siap ketawa yahhhh.,,,,